The Merge & Migrasi Jaringan Ethereum ke Proof-of-Stake: Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

beritamagetan.id/ – Akhirnya, penantian panjang jutaan penggemar Ethereum telah usai. The Merge telah sukses tayang di Ethereum. Tapi, tahukah kamu? Ternyata, bahkan sebelum peluncuran resminya tiba, sudah banyak beragam argumen yang berseliweran seputar The Merge. Tampaknya, kesemarakan ini akan tetap bermunculan setelah agenda bersejarah tersebut usai.

Proses transisi Ethereum ke Proof-of-Stake (PoS) dapat dianggap sebagai salah satu peristiwa bersejarah yang paling signifikan di dunia kripto saat ini. Jadi, bukan hal yang mengejutkan juga jika beragam spekulasi dan misinformasi datang silih berganti menghampiri agenda bersejarah tersebut. Oleh karena itu, di artikel kali ini kita akan membahas seputar fakta dan konsekuensi dari eksperimen teknologi Ethereum ini.

Dalam topik ini, perlu kita catat bahwa keputusan developer Ethereum untuk beralih dari protokol konsensus pertama mereka, yaitu Proof-of-Work (PoW), ke PoS, sebenarnya sudah mereka canangkan sejak beberapa tahun silam. Beacon Chain, cabang blockchain Ethereum yang bertanggung jawab untuk mengoperasikan PoS, bahkan sudah dimulai sejak tanggal 1 Desember 2020 lalu, sebagai langkah pengembangan dan uji coba.

Di sisi lain, tidak dapat kita mungkiri juga bahwa transformasi Ethereum dari PoW ke PoS akan menyebabkan perubahan dalam cara orang memandang Ethereum sebagai sebuah jaringan. Tentu saja, ini adalah fakta yang tidak terbantahkan. Pasalnya, ada banyak sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan; termasuk ekonomi, lingkungan, tokenomics, persaingan dengan aset kripto lainnya, hukum, sentralisasi versus desentralisasi, dan banyak lagi yang lainnya. Pada akhirnya, transisi ke PoS merupakan momen penting tidak hanya untuk teknologi blockchain, tetapi juga bagi seluruh komunitas kripto di dunia.

Ethereum Menjadi Aset yang Berkelanjutan, sedangkan Bitcoin Berdiri Sendirian

Menggunakan PoS sebagai mekanisme konsensus akan secara drastis mengurangi jumlah energi yang blockchain Ethereum konsumsi.

Terkait hal ini, beberapa studi bahkan telah menyimpulkan bahwa berkat adanya The Merge, konsumsi listrik Ethereum akan berkurang drastis sampai 99,95% setelah mengimplementasikan PoS. Tentunya, fakta ini bukanlah hal sepele, sehingga akan menarik minat para investor untuk berinvestasi di dalamnya.

Jadi, peristiwa pertama yang pasti akan terjadi setelah implementasi PoS ini adalah anjloknya hash rate Ethereum ke titik nol. Dengan demikian, hal tersebut akan menandakan akhir dari sebuah era. Setiap pengguna yang memiliki ETH nantinya dapat menjadi validator. Selain itu, mereka juga berkesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang mereka punya dengan menjalankan staking dalam protokol tersebut.

Sedangkan, efek langsung yang terlihat dari transformasi tersebut adalah meningkatnya tekanan media terhadap Bitcoin dan juga dugaan kerusakan lingkungan yang ia timbulkan. Alhasil, investor yang tidak menyukai penggunaan PoW pun akan mulai ragu-ragu untuk berinvestasi di Bitcoin. Misalnya saja, seperti Tesla yang mundur dari tawaran awalnya untuk menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran, setelah mempertimbangkan ganasnya jejak karbon yang aset tersebut hasilkan.

Tidak seperti Bitcoin, dengan menggunakan PoS, Ethereum menyediakan jalur yang jelas untuk menarik minat investor mana pun. Hal ini terutama berlaku bagi investor yang harus mematuhi standar ESG, untuk menyuntikkan modal ke ETH, atau mereka yang berinvestasi di perusahaan yang terkait dengan aktivitas Ethereum.

Dengan begitu, Bitcoin akan tetap menjadi target media, sedangkan Ethereum telah lolos dari salah satu isu aset kripto yang paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir ini.

Argumen Regulator yang Menargetkan Ethereum akan Jadi Lebih Sedikit

Sudah menjadi rahasia umum juga, bahwa regulator telah sejak lama ingin mengintervensi atau menerapkan peraturan dasar tertentu di pasar kripto. Di satu sisi, karena ukuran pasar kripto yang kecil, tampaknya mereka tidak mendapat paksaan apapun untuk ikut campur di dalamnya. Namun, di sisi lain, mereka telah mengamati bagaimana pertumbuhan yang berkepanjangan di antara generasi muda berpotensi membahayakan mata uang nasional mereka. Alhasil, mereka mengkhawatirkan jika aset kripto akan mengancam dominasi kontrol mereka atas uang.

Meskipun demikian, menerapkan regulasi aset kripto bukanlah tugas yang sederhana. Hal itu karena beragamnya proyek yang saat ini sedang dalam pengembangan. Oleh karena kerumitannya itu, regulator juga perlu menentukan mulai dari mana mereka akan menerapkan regulasinya. Kemudian, kekhawatiran tentang lingkungan tampaknya menjadi alasan yang relevan untuk membenarkan regulasi aset kripto tersebut.

Dalam hal ini, Proof-of-Work telah menjadi alasan munculnya berbagai serangan. Dan regulator sedang mempertimbangkan apakah akan langsung melarangnya atau tidak. Klaim yang mereka lontarkan adalah bahwa penambangan kripto menggunakan PoW seharusnya mendapat larangan, karena konsumsi listriknya yang tinggi.

Konsep ini sudah digodok di Eropa melalui MiCA, meskipun akhirnya tertunda. Sehingga, belum akan diimplementasikan dalam waktu dekat-dekat ini. Argumen dapat dibuat dengan cara apa pun di Amerika Serikat. Selain itu, terbentuk juga beberapa laporan, seperti yang terbaru yang datang dari Gedung Putih, yang telah mengeluarkan peringatan tentang bahaya terkait peningkatan jejak karbon.

Dalam laporan itu, Ethereum terpilih untuk bertanggung jawab atas 20-39% dari biaya listrik yang dikeluarkan sebagai akibat dari penambangan kripto. Kemudian, menurut perkiraan, Bitcoin mencapai angka 60-77%. Karena Ethereum telah pindah ke PoS, regulator tidak akan dapat menggunakan argumen ini untuk melawan blockchain tersebut. Sebagai konsekuensinya, aspek berharga ini memberikan perisai jaminan bagi industri kripto yang telah berjalan di atas jaringan Ethereum.

Penambang Ethereum Bermigrasi: Siapakah yang Akan Untung karena Aksi Ini?

Lantas, apa yang akan terjadi pada sekelompok miner yang telah menambang Ethereum setiap harinya? Jadi, seperti halnya Bitcoin, ada peralatan penambangan khusus yang dirancang untuk menambang ETH. Ketika Ethereum beralih menggunakan PoS sebagai model konsensusnya, maka penambangan Ethereum pun akan hilang sepenuhnya, serta hash rate akan anjlok total menjadi nol.

Beberapa kelompok penambangan Ethereum telah berusaha untuk memboikot agenda The Merge, untuk mencabut EIP-1559 atau telah mengancam fork Ethereum yang baru. Namun, upaya mereka tampaknya sia-sia, dan menunjukkan ketidakpuasan para aktor yang relevan di industri kripto.

Di sisi lain, Ethereum Classic, yaitu blockchain pertama Ethereum, akan tetap beroperasi menggunakan PoW. Seperti yang telah Vitalik Buterin sebutkan, bermigrasi dari Ethereum ke Ethereum Classic tampaknya menjadi solusi paling sederhana yang bisa mereka pilih.

The Merge Ethereum dan Bitcoin

Terlepas dari itu, bermigrasi dari penambangan Ethereum PoW ke penambangan Bitcoin PoW bisa jadi adalah ide yang bagus untuk dipertimbangkan. Untuk menjawab hal ini, BeInCrypto telah menghubungi Anibal Garrido, yaitu penasihat aset kripto yang juga merupakan pakar trading dan mining.

Mengenai tujuan akhir miner Ethereum, Garrido mengonfirmasi bahwa mereka mungkin tidak akan menghentikan aktivitas penambangan mereka. Namun, para miner itu “akan bermigrasi ke proyek lain di mana penambangan [tersebut] dapat menawarkan keuntungan yang cukup untuk melanjutkan aktivitas penambangan.” Contoh yang bisa diambil “di antara [yang] lainnya [adalah] RavenCoin, Conflux, dan Ethereum Classic.”

Dengan begitu, peralatan miner Ethereum tidak akan sepenuhnya usang, jelas Garrido.

Sebab, GPU yang bekerja dengan Ethereum dapat dikonfigurasikan untuk proyek lain yang mendukung Etash atau Dagger Hashimoto (basis Proof of Work Ethereum) tanpa ada kendala apapun.

Sementara itu, ketika muncul pertanyaan terkait apakah akan ada migrasi miner dari Ethereum ke Bitcoin, Garrido menjawab:

Hardware Ethereum (GPU) tidak menguntungkan untuk BTC karena tingkat kesulitan jaringan Bitcoin saat ini. Bertahun-tahun yang lalu, miner BTC meninggalkan GPU untuk bermigrasi ke teknologi ASIC yang kuat. [Sehingga] membuat penambangan GPU tidak menguntungkan karena keunggulan ASIC [yang] merugikan dalam memproses triliunan operasi per detik, jauh melebihi pemrosesan GPU.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa selain masalah profitabilitas, ada juga aspek teknis yang berpotensi menjadi kendala besar karena ketiadaan kompatibilitas antara dua jaringan:

Miner ETH ASIC juga akan mengalami kendala karena ketidakcocokan standar algoritmik. Misalnya, miner ASIC E9 yang kuat tidak akan dapat digunakan untuk BTC setelah The Merge, karena hanya kompatibel dengan algoritma Etash (ETH) dan bukan SHA256 (BTC).

Oleh karena itu, eksodus para miner Ethereum ke jaringan Bitcoin tidak mungkin terjadi. Namun, migrasi penambangan dari jaringan Ethereum ke blockchain PoW lainnya pastinya menarik untuk kita saksikan.

Solusi Layer 1 akan Kehilangan Fitur yang Menjadi Nilai Pembeda

Salah satu efek kolateral dari konversi jaringan Ethereum ke PoS akan sepenuhnya mempengaruhi blockchain yang bersaing dengan hegemoni Ethereum, yang terkenal luas dengan sebutan “Ethereum Killers.” Beberapa di antara solusi layer 1 tersebut adalah Solana, Cardano, Avalanche, Tron, Polkadot, dan Radix.

Banyak dari aset kripto ini telah berhasil menuai keuntungan berupa imbalan kolateral berkat perpindahan Ethereum ke PoS. Token-token tersebut bahkan kembali mengalami peningkatan popularitas di tengah musim dingin kripto yang melanda. Namun, baik solusi Layer 1 maupun Layer 2, seperti halnya Polygon, akan kehilangan salah satu nilai jual terkuat mereka dan akhirnya aspek keberlanjutan yang menjadi daya tarik mereka diambil alih oleh Ethereum. Misalnya saja, seperti Starbucks yang awalnya sempat memilih untuk meluncurkan video game NFT di Polygon terutama karena blockchain-nya yang berkelanjutan. Tapi sekarang, argumen itu telah berubah untuk selamanya.

Selain itu, Ethereum 2.0 pada akhirnya juga akan menekan paksa protokol-protokol ini untuk mengubah pesan pemasaran mereka untuk berfokus pada jenis kualitas lain yang masih menjadi kekurangan Ethereum. Contohnya, seperti tingginya biaya yang ada di jaringan, terutama yang dapat mengatasi masalah skalabilitas yang selalu ada.

Sementara itu, karena Ethereum memiliki basis pengguna dan developer yang besar, persaingan ini akan sulit untuk dimenangkan. Tapi, masih banyak hal yang mungkin berubah, terutama di dunia kripto. Dengan begitu, Ethereum beserta L1 dan L2 lainnya kemungkinan besar akan beroperasi dalam ekosistem yang saling berhubungan satu sama lain di masa depan nanti.

The Merge Buat Industri NFT Kini Lebih Ramah Lingkungan

Salah satu sub-industri dari sektor kripto yang paling menderita akibat beban penggunaan teknologi yang tidak berkelanjutan adalah sektor NFT serta turunannya.

Pasalnya, sektor non fungible token (NFT) cenderung lebih sering dipolitisasi dan memicu kesadaran lingkungan. Saat ini, NFT telah memiliki kegunaan dalam berbagai aplikasi, mulai dari video game, hingga olahraga atau musik. Namun, use case sebenarnya yang membuat mereka populer adalah adalah karya seni kripto (crypto art).

Lalu, tidak ketinggalan juga, karena jejak karbon mereka, selalu ada perdebatan yang mencuat tentang penggunaan Ethereum untuk menampung dan membuat NFT karya seni di sektor ini. Tapi saat ini, sektor seni kripto tersebut akhirnya sudah bisa bernafas lebih lega.

Sentralisasi sebagai Ancaman bagi Ethereum setelah The Merge

Kemudian, isu yang juga tidak kalah sering mencuat di forum diskusi yaitu tentang aspek sentralisasi Ethereum. Selain itu, tidak heran bahwa transisi konsensus Ethereum ke PoS akan mengubah tokenomics jaringannya, dan itu dapat mempengaruhi desentralisasi Ethereum.

Terlebih lagi, sudah bermunculan juga para penentang PoS untuk Ethereum yang menyebutkan bahwa sistem ini pada akhirnya justru akan menyebabkan jaringan Ethereum menjadi terpusat. Akibatnya, investor besar akan dapat meraup ETH dalam jumlah besar. Lebih jauh lagi, pada akhirnya mereka akan mendominasi sebagian besar jaringan tersebut. Kehadiran investor berkantong tebal itu memang nyata adanya. Misalnya saja, seperti GrayScale yang membeli hampir semua ETH yang ditambang selama fase ketika mereka mengumpulkan dana Ethereum-nya.

Selanjutnya, ketakutan yang sudah muncul saat ini adalah bahwa Ethereum akan menjadi lebih terpusat. Terkait hal ini, mari kita amati data dari Dune Analytics, sebuah platform pengumpul data blockchain publik. Menurut data tersebut, Lido memiliki saham ETH terbesar dengan jumlah 4.152.128 Ether dalam staking atau hampir 31% dari keseluruhan pool. Jumlah ini setara dengan 129.754 validator, karena masing-masing dari mereka perlu menjalankan staking sebanyak 32 ETH pada Beacon Chain, yaitu blockchain staking Ethereum. Blockchain tersebut juga pada akhirnya akan bergabung dengan Ethereum untuk mengubahnya menjadi Ethereum 2.0.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa tiga platform bursa kripto telah mendominasi 29,61% ETH dalam staking tersebut. Sementara itu, jumlah total staking dari 4 aktor yang disebutkan pertama adalah 8.160,416 ETH, atau 60,69% dari semua ETH yang dijalankan dalam staking.

Selain itu, masalah yang muncul karena sentralisasi ini adalah bahwa investor atau perusahaan yang memegang uang dalam jumlah besar dapat diserang dengan membekukan dana mereka. Sehingga, ketika itu terjadi, maka mereka juga akan mempengaruhi jaringan Ethereum. Padahal, sebelumnya ini bukanlah hal serius yang perlu ditangani. Namun, sanksi terhadap Tornado Cash telah menyebabkan banyak masalah dan kendala. Charles Hoskinson, pencipta Cardano, menyebutnya sebagai “preseden berbahaya.”

Meskipun konsekuensi yang akan muncul masih belum pasti. Tetapi, satu hal yang pasti adalah bahwa transisi Ethereum ke PoS dalam beberapa hal akan mengguncang desentralisasi Ethereum.

The Merge Menjadi Agenda Penting bagi Semua Pengguna Kripto

Faktanya, memang benar bahwa Ethereum Merge dan transisinya dari PoW ke PoS bisa jadi merupakan agenda yang paling relevan tahun ini. Begitu juga untuk industri kripto sejak Bitcoin dan Ethereum lahir.

Di satu sisi, eksperimen global ini dapat menjadi preseden di antara para developer kripto. Jika berhasil, hal itu bahkan bisa meyakinkan para Bitcoin maximalist untuk membuat perubahan pada model konsensus mereka. Di sisi lain, jika akhirnya eksperimen itu gagal, mereka akan menghapus sebagian dari identitas asli Ethereum.

Kemudian yang terakhir, perlu kita ingat juga bahwa tanpa adanya eksperimen, suatu entitas tidak akan mungkin bisa berevolusi. Semoga sukses, Ethereum!

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram Be[In]Crypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!